Acapkali aku menanyakan persoalan sederhana kepada sebagian sahabat perempuan aku“ Kenapa kalian tidak berhijab?” serta salah satunya jawaban tersadu yang mereka katakan merupakan,“ Maaf aku belum siap”. Kadangkala aku berfikir apakah berhijab merupakan anjuran ataupun kewajiban.

Bisa jadi perihal inilah yang belum dapat dimengerti oleh sebagian perempuan yang tidak berhijab. Mereka belum sanggup membedakan antara anjuran serta kewajiban. Sementara itu dari kosa katanya telah sangat jelas.

Selayaknya mahasiswa, bila kita mau lulus dengan predikat terbaik hingga kita wajib melaksanakan sebagian kewajiban ialah berangkat ke kampus serta belajar dengan teratur. Tetapi bila tidak melaksanakan perihal yang demikian hingga kemauan buat lulus dengan predikat terbaik pula tidak hendak dapat kita didapatkan.

Begitulah dengan jilbab, dalam islam berhijab hukumnya harus, sama halnya semacam shalat 5 waktu serta kewajiban–kewajiban lain. Harus merupakan bila dikerjakan menemukan pahala, serta bila tidak dikerjakan menemukan dosa.

(Hai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian) Kami telah menciptakannya untuk kamu (untuk menutupi) guna menutupi (auratmu dan pakaian perhiasan) pakaian yang digunakan sebagai perhiasan. (Dan pakaian takwa) yakni amal saleh dan akhlak yang baik; dengan dibaca nashab karena diathafkan kepada lafal libaasan, dan dibaca rafa’ sebagai mubtada sedangkan khabarnya ialah jumlah berikut ini (itulah yang lebih baik. Yang demikian itu adalah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah) bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan-Nya (mudah-mudahan mereka selalu ingat) kemudian mau beriman; di dalam jumlah ini terkandung iltifat atau kata sindiran terhadap mukhathab atau orang yang diajak bicara. (QS. Al-A’raf [7]: 26)

(Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”) lafal Jalaabiib adalah bentuk jamak dari lafal Jilbaab, yaitu kain yang dipakai oleh seorang wanita untuk menutupi seluruh tubuhnya. Maksudnya hendaknya mereka mengulurkan sebagian daripada kain jilbabnya itu untuk menutupi muka mereka, jika mereka hendak keluar karena suatu keperluan, kecuali hanya bagian yang cukup untuk satu mata. (Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah) lebih gampang (untuk dikenal) bahwasanya mereka adalah wanita-wanita yang merdeka (karena itu mereka tidak diganggu) maksudnya tidak ada orang yang berani mengganggunya, berbeda halnya dengan hamba sahaya wanita, mereka tidak diperintahkan untuk menutupi mukanya, sehingga orang-orang munafik selalu mengganggu mereka. (Dan adalah Allah Maha Pengampun) terhadap hal-hal yang telah lalu pada kaum wanita Mukmin yang merdeka, yaitu tidak menutupi wajah mereka (lagi Maha Penyayang) kepada mereka jika mereka mau menutupinya. (QS. Al-Ahzab [33]: 59)

Banyak sekali alibi yang tumbuh menimpa kewajiban berhijab. Terdapat pula yang berkata“ Percuma berhijab tetapi kelakuan nya tidak berganti”. Nah kasus semacam ini sesungguhnya tidak hendak terjalin bila kita menguasai gimana esensi berhijab yang sesungguhnya. Berhijab bukan semata-mata menggunakan kerudung, tetapi lebih daripada itu, sistem kita berjalan, berteman, berdialog, berikir, serta bertingkah laku merupakan totalitas jilbab.

Pada dasarnya jilbab menggambarkan simbol muslimah yang taat. Cuma saja sebagian perempuan kita sudah terkontaminasi oleh pemikiran barat yang berkata kalau berhijab tidak membagikan kebebasan kepada perempuan, berhijab itu mengekang perempuan serta sebagainya. Sementara itu bila ditelisik lebih dalam sebetulnya berhijab itu melindungi perempuan kita dari bermacam perihal yang menjerumus kepada perzinahan. Dengan berhijab kesucian serta kecantikan perempuan hendak terlindungi dari hal-hal yang tidak di idamkan dengan sendirinya.